“If
you owe €3.000 to the bank and don’t pay,
they will kill you.”
“If
you owe €10 billion, they will do
everything for you.”
Yiannis
Bournos, juru bicara Partai Syriza Yunani
TERUTAMA sejak gelombang krisis
ekonomi di Eropa kembali pasang Agustus lalu, banyak ekonom dan media di
Indonesia ramai menulis analisis dan laporan soal krisis utang Yunani.
Jujur, dalam catatan saya, sangat
sedikit laporan yang benar-benar bermutu. Analisis yang lebih banyak ditulis
adalah yang biasa-biasa saja alias 'tidak kena'. Sisanya laporan sampah.
Laporan jadi sampah karena
penulisnya gagal memahami potret besar masalah. Boleh jadi dia sekadar
menerjemahkan, salah melihat detail, atau sok tau pada tingkat yang lebih
parah.
Kegagalan memahami persoalan
mengakibatkan kekeliruan menetapkan sudut pandang, dan pada gilirannya,
kesalahan pendekatan serta pisau analisis yang digunakan. Tentu saja itu fatal.
Bagaimana bisa misalnya, menjelaskan
apa yang sebenarnya terjadi di Yunani dengan perspektif yang dipakai untuk menganalisis
rusaknya sektor finansial di Amerika Serikat?
Saya tak berpretensi menulis laporan
yang paripurna mengenai anatomi krisis utang Yunani. Saya hanya merasa,
analisis soal Yunani tidak seharusnya abai dengan 5 detail ini:
Pertama, kreditur terbesar Yunani adalah Deutsche Bundesbank.
Sekadar informasi, Bank Sentral Jerman ini juga memiliki piutang besar di
Spanyol, Portugal, Italia, dan Irlandia.
Fakta ini sering absen dalam banyak
laporan dan analisis. Sebagian malah menyebut European Central Bank atau Bank
Sentral Eropa sebagai kreditur terbesar Yunani.
Absennya fakta tersebut mungkin
diakibatkan oleh tidak pernah adanya konfirmasi dari pimpinan Bundesbank.
Meski, secara samar-samar, laporan keuangannya memberi petunjuk lain.
Petunjuk itulah yang telah memicu
perdebatan sengit mengenai posisi Bundesbank sebagai kreditur Yunani. Sebagian
mengafirmasi, sebagian mengingkari. Cermati di sini.
Akan tetapi, makalah yang ditulis Stefan
Homburg, direktur Institut Keuangan Publik Universitas Leibniz-Hanover,
rasanya berhasil menyelesaikan perdebatan besar itu.
Kesimpulan tajam Homburg mengenai
posisi Bundesbank berikut konsekuensinya dapat dibaca di sini, sementara
laporan keuangan Bundesbank yang memicu perdebatan tersebut di sini.
Tentu saja posisi Bundesbank sebagai
kreditur terbesar Yunani itu dengan sendirinya menjawab pertanyaan, kenapa di
antara negara Eropa, Jerman-lah yang paling ngotot menalangi Yunani.
Bundesbank-lah yang paling merugi
apabila Yunani tidak sanggup lagi mencicil utangnya. Jika akibat kredit macet
itu lalu Bundesbank bangkrut, APBN Jerman-lah yang harus menalanginya.
Itu berarti, alih-alih berperan
sebagai dewa penolong rakyat Yunani, bail-out yang diusung Jerman untuk
Yunani sejatinya ditujukan untuk mengamankan dirinya sendiri.
Karena itu, tak cukup dengan bail-out,
Jerman juga memaksakan resep lama IMF—yang sudah diakui keliru—untuk diterapkan
Yunani: Privatisasi, kenaikan pajak, serta pemangkasan upah dan belanja.
Tentu saja resep itu kali pertama
bukan dimaksudkan agar rakyat Yunani bisa keluar dari krisis. Melainkan agar
Yunani, yang tingkat penganggurannya di atas 20%, sanggup mencicil utangnya.
Bandingkan resep itu dengan tambahan
utang dan belanja baru yang ditempuh AS saat ekonominya dihantam krisis.
"The more you spend, the more you get," kata ekonom peraih nobel,
Joseph Stiglitz.
Kedua, mayoritas pemilih Jerman setuju dengan cara Merkel menangani
Yunani. Sebangun dengan posisi menentukan Bundesbank, fakta ini juga banyak
absen dalam berbagai laporan.
Yang justru lebih banyak dikutip
adalah anjloknya popularitas koalisi di bawah Partai Kristen Demokrat pimpinan
Kanselir Jerman Angela Merkel dalam pemilu regional terakhir.
Bias pengutipan muncul saat
tergerusnya derajat keterpilihan koalisi tersebut dipararelkan dengan
kengototan Merkel pada Yunani. Hati-hati, boleh jadi keduanya tak sepenuhnya
saling berkaitan.
Benar bahwa di sisi lain gelombang
sosialisme memang sedang pasang di Eropa, yang antara lain ditandai oleh
kemenangan Francois Hollande dalam Pemilu Presiden Prancis.
Namun, banyak laporan menunjukkan
penyebab anjloknya popularitas partai Merkel itu lebih karena kebijakan pemerintah
soal tarif pajak dan energi, bukan cara dia menangani Yunani.
Agaknya itu pula yang menjelaskan,
seperti terlihat di sini, kenapa
popularitas Merkel baik di panggung regional maupun federal relatif stabil
sejak bail-out Yunani bergulir 2 tahun silam.
Pemilih Jerman niscaya memahami,
sikap menekan yang keras dan tanpa ampun Merkel terhadap Yunani, sampai-sampai
muncul julukan Iron Fist untuknya, adalah pilihan terbaik bagi Jerman.
Meski disadari, pilihan itu akan semakin mencekik Yunani.
Sebuah preferensi politik yang pragmatis ekspansionis—yang entah kenapa
mengingatkan saya pada doktrin Lebensraum-nya Hitler.
“This
is dangerous. Now everyone knows we have to save the euro, at almost any cost.”
Hans-Werner
Sinn, ekonom Jerman, penemu piutang Bundesbank di bank-bank sentral zona
euro—yang disembunyikan dalam akun bernama TARGET2—senilai lebih dari €498
miliar
DETAIL ketiga adalah nilai
riil euro di Yunani yang jauh lebih rendah dari pada di Jerman. Pemahaman
sederhananya, harga secangkir kopi di Athena jauh lebih mahal dari pada di
Berlin.
Fakta tidak identiknya euro di
setiap negara anggota zona euro ini tampaknya sederhana. Namun, implikasi dan
bangun relasi akibat perbedaan nilai riil mata uang itu sungguh tidak
main-main.
Bagi negara pemakai euro yang
kekuatan ekonominya di atas rata-rata seluruh negara pemakai euro seperti
Jerman atau Prancis, perbedaan nilai riil tersebut akan sangat menguntungkan.
Perekonomian negara secara
keseluruhan akan semakin cepat melesat karena beroperasi dengan ongkos murah.
Dan dengan mata uang yang lemah, produk ekspornya akan kian kompetitif.
Di pasar internasional, produk
Jerman bisa bersaing dengan produk China tanpa harus mematok mata uang lebih
rendah, dan mengambil risiko dimusuhi banyak negara seperti yang harus dialami
Beijing.
Para pengambil kebijakan moneter di
Berlin cukup duduk manis melihat perekonomian negara zona euro lain melemah,
dan daya saing produk ekspornya otomatis terangkat di pasar global.
Sebaliknya, tanpa adanya risiko
kurs, di pasar intra zona euro yang mengambil porsi sekitar dua per tiga dari
total ekspor Jerman, dominasi produk Jerman pun menjadi tak terhindarkan.
Nilai rendah euro yang artifisial
bagi Jerman dengan sendirinya merupakan nilai tinggi euro yang artifisial bagi
negara yang ekonominya lebih lemah seperti Yunani, Italia, Spanyol, atau
Portugal.
Itu berarti, warga Yunani, Italia,
dan seterusnya, akan semakin mudah membeli produk Jerman seperti mobil, barang
elektronik, sampai mesin, karena harganya yang terjangkau.
Inilah yang sebetulnya paling
menjelaskan kenapa ekspor Jerman bisa tumbuh dua kali lipat sejak bergabung ke
zona Euro pada 1999, dari hanya €469 miliar menjadi lebih dari €1 triliun per
2010.
Kalau bukan karena euro yang lemah,
bagaimana Jerman dengan 80 juta penduduk yang gaji tinggi buruhnya dilindungi
oleh sistem pengaman sosial terbaik bisa jadi eksportir terbesar kedua dunia?
Sejalan dengan dengan dukungan
sumberdaya manusia, teknologi dan infrastruktur ekonominya, pertumbuhan ekonomi
Jerman pun melaju dua kali lebih cepat dari capaian negara zona euro lain.
Konfirmasi lebih jelas dari fenomena
zero-sum ini datang dari data ekspor Jerman per Agustus-September 2011,
saat gelombang krisis kembali pasang dan menghela resesi di kawasan Eropa.
Pada Agustus itu, ekspor Jerman
masih naik 0,2% dari bulan sebelumnya. Begitu pula September, ekspor Jerman
masih naik 1% dari bulan sebelumnya ke rekor tertinggi baru, €91,3 miliar.
Dengan posisi impor September yang
melandai 0,8%, surplus neraca berjalan Jerman otomatis terangkat. Dalam situasi
normal, surplus itu pasti langsung memperkuat nilai tukar.
Tapi itu tidak terjadi, karena di
wilayah selatan Eropa seperti di Yunani, Italia, Spanyol, dan Portugal, nilai
euro melemah. Dan hasilnya, ekspor Jerman pun semakin kompetitif.
***
DETAIL keempat, krisis
utang di Yunani telah berubah menjadi krisis kedaulatan. Ini adalah
konsekuensi logis dari praktik penghisapan akibat kelemahan mendasar penggunaan
euro.
Ada bangun relasi yang tidak sehat
dan saling memanfaatkan, yang ditandai dengan fenomena zero-sum antara
negara kuat dan lemah sesama pemakai euro.
Mudah saja memahami fenomena zero-sum
economy ini. Dengan makin banyaknya perdagangan di zona euro, surplus
neraca berjalan di satu negara juga berarti defisit di negara yang lain.
Itulah sebabnya, berkebalikan dengan
keuntungan besar yang dinikmati Jerman, perbedaan nilai riil euro adalah petaka
bagi negara yang ekonominya di bawah rata-rata seperti Yunani.
Dengan nilai riil mata uang yang
rendah, rakyat Yunani harus menjalankan ekonominya dengan ongkos lebih mahal,
dengan daya saing ekspor dan ketahanan ekonomi yang terus tergerus.
Sebaliknya bagi Jerman, euro yang
lemah adalah jembatan kemakmuran. Karena itu, Jerman tak hanya butuh euro, tapi
juga berkepentingan agar anggota euro yang lemah tetap lemah dan memakai euro.
Benar bahwa Yunani juga beroleh
keuntungan dengan bergabung ke zona euro. Dia mendapatkan akses mudah
pembiayaan dengan ongkos relatif lebih murah dari sebelum memakai euro.
Benar pula bahwa tumpukan utang yang
menggunung sekarang bukan bersumber dari utang baru saja, melainkan juga
akumulasi utang sejak sebelum Yunani bergabung ke euro.
Dan benar juga bahwa birokrasi
Yunani yang sibuk memperbesar gajinya gagal memanfaatkan akses mudah pembiayaan
murah tersebut untuk memperkuat ketahanan ekonominya.
Namun, tentu saja birokrasi Yunani
tak ‘menari tango’ sendirian. Banyak perusahaan Jerman yang beroleh kontrak
proyek besar Yunani yang didanai utang itu, dan dengan cara menyuap.
Akumulasi praktik penghisapan itulah
yang menjelaskan perubahan konfigurasi politik di Yunani, seiring
tereskalasinya sentimen anti-Jerman, dan menemukan momentumnya pada Pemilu 6
Mei 2012.
Dalam pemilu itu, perolehan suara
koalisi partai pro-penghematan susut dari 77,40% setara 251 dari total 300
kursi di Pemilu 2009 menjadi hanya 32,03% atau 149 kursi.
Pemilu yang tak menelurkan kekuatan
mayoritas itu pula yang menunda Troika mencairkan dana bail-out
keduanya, sekaligus mendorong pertemuan G-8 yang khusus membahas soal Yunani.
Namun, sejalan dengan perubahan
tersebut, menguat pula wacana keluar dari zona euro, dan kembali ke mata uang
lamanya, drachma—sehingga Yunani bisa berdaulat mencetak uangnya sendiri.
Genderang perubahan itulah yang kini
diorkestrasikan Partai Syriza, pemimpin koalisi partai anti-penghematan, yang
berdasarkan polling terakhir diprediksi memenangkan pemilu ulang 17
Juni.
Tentu saja dari perspektif ini, yang
menarik bukanlah kemenangan Partai Syriza, melainkan prospek bertemunya
kekuatan anti dan dan pro-penghematan dalam satu sentimen kedaulatan
anti-Jerman.
***
DETAIL kelima, rentang
waktu pencairan dana bail-out tahap I dan II yang terlalu lama. Tak
banyak dikutip, bahwa penentu utama keputusan bail-out Yunani adalah
parlemen Jerman.
Persetujuan bail-out pertama
maupun kedua yang diperoleh melalui voting parlemen Jerman-lah yang
mendorong Merkel terus maju memimpin ‘penyelamatan’ Yunani.
Benar bahwa Troika yakni Bank
Sentral Eropa, IMF dan Komisi Eropa, termasuk para menteri keuangan Eropa dan
parlemen Yunani, juga punya suara untuk ikut menentukan bail-out.
Tapi determinasi parlemen Jerman
jelas tak bisa dipungkiri. Di luar nasib perbankan domestiknya yang menjadi
pertaruhan terbesar, Jerman adalah pemilik saham mayoritas Bank Sentral Eropa.
Yang menarik, dalam perdebatan di
parlemen Jerman sebelum keputusan bail-out pertama €130 miliar keluar 2
Mei 2010, sudah diyakini bahwa bail-out itu akan berlanjut lagi.
Hal yang sama terulang saat voting
untuk persetujuan bail-out tahap kedua sebesar €110 miliar pada
Februari lalu, sebelum bail-out tersebut resmi dirilis 14 Maret 2012.
Namun, justru dengan determinasi dan
keyakinan yang kemudian terbukti itulah muncul dugaan bahwa pemilihan rentang
waktu dan periodesasi bail-out Yunani adalah kesengajaan belaka.
Jauh sebelumnya, Jerman sudah
menghitung dan menyadari besarnya risiko kegagalan bail-out tersebut,
bahkan mungkin sampai pada kemungkinan terburuk keluarnya Yunani dari zona
euro.
Dan untuk menghadapi kemungkinan
terburuk itulah Jerman perlu waktu guna merealisasikan skenario yang lain, baik
melalui konsolidasi keuangan maupun mitigasi kerugian perbankannya.
Tentu ada yang berpendapat simpulan
itu terlalu spekulatif. Tapi paling tidak, pemahaman itu jauh lebih rasional,
dari pada naif dan menyimpulkan Jerman terlalu bodoh untuk taruhan yang begitu
besar.
Sebab jarak 2 tahun antara dua bail-out Yunani itu memang
memberi peluang Jerman dan Eropa untuk menyiapkan pengaman—jika Yunani akhirnya
keluar dari zona euro.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar